WHAT IS JUDO ?

Pegulat Sumo zaman dahulu kala menjatuhkan lawannya tanpa senjata. Hal ini menginspirasikan teknik-teknik bela diri jujutsu. Sumo pada awalnya hanya dinikmati kaum aristokrat sebagai ritual atau upacara keagamaan pada zaman Heian (abad ke-8 hingga abad ke-12).

Pada perkembangannya, Jepang memasuki masa-masa perang di mana kaum aristokrat digeser kedudukannya oleh kaum militer. Demikian pula olahraga yang sebelumnya hanya dijadikan hiburan, oleh kaum militer dijadikan untuk latihan para tentara. Pada masa inilah teknik jujutsu dikembangkan di medan pertempuran. Para prajurit bertempur tanpa senjata atau dengan senjata pendek. Teknik menjatuhkan lawan atau melumpuhkan lawan inilah yang dikenal dengan nama jujutsu.

Pada zaman Edo (abad ke-17 hingga abad ke-19) di mana keadaan Jepang relatif aman, jujutsu dikembangkan menjadi seni bela diri untuk melatih tubuh bagi masyarakat kelas ksatria. Gaya-gaya jujutsu yang berbeda-beda mulai muncul, antara lain Takenouchi, Susumihozan, Araki, Sekiguchi, Kito, dan Tenjinshin’yo.

 

Awal Mula Judo

 

Jigoro Kano menambahkan gayanya sendiri pada banyak cabang jujutsu yang ia pelajari pada masa itu (termasuk Tenjinshiyo dan Kito). Pada tahun 1882 ia mendirikan sebuah Dojo di Tokyo yang ia sebut Kodokan Judo. Dojo pertama ini didirikan di kuil Eisho ji, dengan jumlah murid sembilan orang.

Tujuan utama jujutsu adalah penguasaan teknik menyerang dan bertahan. Kano mengadaptasi tujuan ini, tapi lebih mengutamakan sistem pengajaran dan pembelajaran. Ia mengembangkan tiga target spesifik untuk judo: latihan fisik, pengembangan mental/roh, dan kompetisi di pertandingan-pertandingan.

Penulis : Subhan Prasandra

Terjemahan harafiah dari kata ‘judo’ adalah ‘cara yang halus’. ‘Cara’ atau ‘jalan’ yang dimaksud disini memiliki arti konotasi secara etika dan filosofis. Kano mengungkapkan konsep filosofinya dengan dua frase, “Seiryoku Zen’yo” (penggunaan energi secara efisien) dan “Jita Kyoei” (keuntungan bagi diri sendiri dan orang lain). Meskipun disebut halus, namun sebenarnya judo merupakan kombinasi dari teknik-teknik keras dan lembut, maka dari itu judo dapat pula diartikan sebagai ‘cara yang lentur’.
Jujutsu, pada sisi yang lain, memiliki terjemahan harafiah ‘kemampuan yang halus’. Latihan jujutsu dipusatkan pada cara-cara (kata) tertentu dan formal, sedangkan judo menekankan pada latihan bebas teknik tertentu dalam perkelahian bebas (randori). Hal ini membuat pelatihan judo berjalan lebih dinamis.

Para kontestan jujutsu menggunakan seragam yang relatif berat (hakama). Para praktisi awal judo menggunakan semacam celana pendek, namun tidak lama kemudian mereka lebih memilih menggunakan busana Barat yang dinilai lebih memiliki keunggulan fungsi dan mengijinkan pergerakan yang lebih bebas. Seragam modern judo (judogi) dikembangkan pada tahun 1907.

Teknik-teknik jujutsu, selain teknik dasar seperti melempar dan menahan, menggunakan pukulan, tendangan, bahkan menggunakan senjata pendek. Pada sisi lain, judo menghindari tendangan dan pukulan-pukulan yang berbahaya, dan lebih dipusatkan pada teknik membanting yang terorganisir dan teknik bertahan.

 

Penggunaan akhiran -do dan -jutsu

 

Banyak cabang beladiri Jepang yang mempunyai awalan yang sama namun memiliki dua akhiran ‘-do’ dan ‘-jutsu’.Bujutsu dan Budo serta Kenjutsu dan Kendo adalah beberapa contohnya. Perbedaan dasar dari kedua akhiran ini adalah ‘-do’ berarti ‘jalan’ dan ‘-jutsu’ yang artinya ‘jurus’ atau ‘ilmu’. Selain itu dalam bela diri berakhiran ‘-do’ biasanya lebih banyak peraturan yang tidak memungkinkan seseorang untuk terluka akibat serangan yang fatal, namun tidak demikian halnya dengan bela diri yang berakhiran dengan kata ‘-jutsu’, misalnya di dalam kendo, hanya bagian tangan, perut, kaki, dan bagian bawah dagu yang boleh diserang, sedangkan kenjutsu membolehkan serangan ke semua bagian tubuh.

Secara umum, budo (‘bu-‘ artinya prajurit) adalah pengembangan dari bujutsu yang telah disesuaikan dengan zaman sekarang (untuk olahraga, bukan berkelahi). Beberapa contoh bujutsu yang dikembangkan menjadi budo :

  • Jujutsu —>Judo
  • Kenjutsu —> Kendo
  • Aiki-Jujutsu —> Aikido
  • Karate jutsu —> Karate Do
  • Battoujutsu/Laijutsu —> Battoudo/Laido

Kaum perempuan pertama kali diterima sebagai judoka pada tahun 1893, walaupun pada saat itu kaum olahragawati dianggap sebelah mata di dalam struktur masyarakat Jepang. Meskipun demikian, kemajuan yang dramatis ini hanya berlangsung sebentar, karena pada hakekatnya mereka masih dijauhkan dari pertandingan-pertandingan resmi, dengan alasan keselamatan fisik.

Setelah Perang Dunia II, judo bagi laki-laki dan perempuan diperkenalkan keluar Jepang. Persatuan Judo Eropa dibentuk pada tahun 1948, diikuti dengan pembentukan International Judo Federation pada tahun 1951 . Judo menjadi salah satu cabang olahraga resmi Olimpiade pada Olimpiade Tokyo 1964 di Tokyo, Jepang. Judoka perempuan pertama kali berlaga di Olimpiade pada Olimpiade Bercelona 1982 di Barcelona, Spanyol.

 

Tingkatan Judo dan warna ikat pinggang

 

Dimulai dari kelas pemula (shoshinsha) seorang judoka mulai menggunakan ikat pinggang dan disebut berada di tingkatan kyu keempat, ketiga, kedua, dan akhirnya kyu pertama. Setelah itu sistem penomoran dibalik menjadi dan pertama (shodan), kedua, dan seterusnya hingga dan kesepuluh, yang merupakan tingkatan tertinggi di judo. Meskipun demikian, sang pendiri, Kano Jigoro, mengatakan bahwa tingkatan judo tidak dibatasi hingga dandan kesepuluh, maka tidak ada yang pernah melampaui tingkat tersebut.

Penulis : Subhan Prasandra

JIGORO KANO
Founder of Judo

Jigorō Kanō (lahir 28 Oktober 1860 – meninggal 4 Mei 1938 pada umur 77 tahun) adalah pendiri Judo. Judo adalah seni bela diri Jepang yang pertama memperoleh pengakuan internasional secara luas, sekaligus seni bela diri Jepang pertama yang menjadi cabang olahraga resmi Olimpiade. Inovasi dan yang dilakukannya termasuk diperkenalkannya penggunaan sabuk hitam dan sabuk putih, serta tingkatan Dan untuk menunjukkan peringkat di antara anggota dari suatu aliran seni bela diri. Prinsip judo yang diciptakan Kanō adalah “Efisiensi Maksimum dengan Usaha Minimum” dan “Saling Menguntungkan dan Kesejahteraan”.

Dalam kehidupannya, Jigoro Kanō adalah seorang pendidik. Jabatan penting yang pernah didudukinya termasuk menjabat sebagai direktur pendidikan dasar untuk Kementerian Pendidikan dari tahun 1898-1901, dan sebagai kepala sekolah di Sekolah Normal Tinggi Tokyo dari 1901 sampai 1920. Ia memainkan peran penting dalam memasukkan Judo dan kendo ke kurikulum sekolah umum di Jepang pada tahun 1910-an.

Jigoro Kano juga pelopor olahraga internasional. Di antara jabatan yang pernah dipercayakan kepadanya termasuk anggota Komite Olimpiade Internasional (IOC) pertama dari Asia (menjabat dari 1909 sampai 1938); wakil resmi Jepang pada hampir semua Olimpiade yang diadakan antara 1912 dan 1936, dan juru bicara utama pencalonan Jepang sebagai tuan rumah Olimpiade Helsinki 1940.

Di antara penghargaan dan bintang yang pernah diterimanya adalah First Order of Merit dan Orde Matahari Terbit Kelas Utama dan Gelar Kekaisaran Kelas Tiga. Jigoro Kano diabadikan di IJF Hall of Fame pada 14 Mei 1999.

Jigoro Kano lahir sebagai putra ketiga dari keluarga pembuat sake di kota Mikage, Jepang (sekarang disebut Higashinada-ku, Kobe). Di antara sake yang diproduksi keluarganya terdapat merek-merek seperti “Shiroshika”, “Hakutsuru”, dan “Kiku-Masamune”. Meskipun demikian, ayahnya yang bernama Kano Jirosaku Kireshiba adalah seorang anak angkat yang tidak turut serta dalam bisnis keluarga. Ayahnya bekerja sebagai biksu sekaligus klerk senior di perusahaan pelayaran. Ayahnya adalah seorang yang sangat percaya pada pentingnya pendidikan. Ia memberikan pendidikan terbaik untuk Jigoro Kano. Di antara guru yang mengajarnya sewaktu kecil terdapat cendekiawan neo-Konfusianisme sarjana Yamamoto Chikuun dan Akita Shusetsu. Ibunya meninggal ketika Kano berumur sembilan tahun, dan ia diajak ayahnya pindah ke Tokyo. Kano semasa remaja dididik di sekolah swasta, dan ia bahkan memiliki guru les privat bahasa Inggris. Pada 1874, ia dikirim ke sebuah sekolah swasta yang dikelola oleh orang Eropa untuk meningkatkan keterampilan bahasa Inggris dan Jerman.

Pada saat itu, tinggi badan Kano 157 cm, namun beratnya hanya 41 kg. Dia berharap dirinya bisa lebih kuat. Suatu hari, Nakai Baisei (seorang teman dari keluarga yang bekerja sebagai anggota penjaga shogun) memberitahukannya bahwa jujutsu adalah bentuk latihan fisik yang sangat baik. Dia kemudian menunjukkan kepada Kano beberapa teknik yang memungkinkan orang yang lebih kecil dapat mengatasi lawan yang lebih besar dan kuat. Kano memutuskan dia ingin belajar jujutsu meskipun Nakai memperingatinya bahwa latihan yang akan diterimanya sudah ketinggalan zaman dan agak berbahaya. Ayah Kano juga berkeberatan anaknya belajar jujutsu, dan menganjurkan kepadanya untuk belajar olahraga modern saja.

Ketika Kano kuliah di Universitas Kekaisaran Tokyo pada tahun 1877, dia mulai mencari guru jujutsu. Dia melakukan ini dengan terlebih dahulu mencari tabib tulang, yang disebut seifukushi. Ia berasumsi bahwa para tabib tahu nama-nama guru seni bera diri terbaik. Ketika sedang mencari-cari guru, ia bertemu dengan Yagi Teinosuke yang pernah berguru kepada Emon Isomata dari aliran jujutsu Tenjin Shin’yō-ryū. Yagi kemudian memperkenalkan Kano kepada Fukuda Hachinosuke, seorang tabib tulang pengajar Tenjin Shin’yō-ryū di ruangan 10 tatami yang berdekatan dengan tempat prakteknya. Tenjin Shin’yō-ryū adalah kombinasi dari dua aliran yang lebih tua: Yōshin-ryū dan Shin no Shindō-ryū.

Metode latihan yang diterapkan Fukuda kebanyakan terdiri membiasakan murid baru dijatuhkan berkali-kali oleh guru atau murid senior sampai mereka mulai memahami mekanisme teknik bantingan. Fukuda menekankan pada teknik praktis daripada latihan kata. Dia memberikan penjelasan singkat mengenai tekniknya kepada para pemula, dan kemudian menyuruh mereka mempraktikkannya secara bebas (randori) supaya mereka dapat belajar dari pengalaman. Baru setelah murid telah mengerti dasar-dasar, mereka diajari (kata). Metode belajar seperti ini sulit, tidak ada tatami khusus untuk jatuh, hanya tatami standar dari jerami yang diletakkan di atas lantai kayu.

Kano mengalami kesulitan mengalahkan Fukushima Kanekichi yang merupakan salah satu seniornya di perguruan. Oleh karena itu, Kano mulai mencoba teknik-teknik tidak umum terhadap saingannya. Dia pertama kali mencoba teknik dari sumo. Setelah tahu itu tidak membantunya, ia belajar lebih banyak, dan mencoba teknik gendong pemadam kebakaran (fireman carry) sebagai cikal bakalnya teknik Kata Guruma yang dia pelajari dari sebuah buku tentang gulat Barat. Siasatnya berhasil, Kata Guruma hingga kini telah menjadi bagian dari teknik judo, meskipun pada saat ini organisasi judo dari beberapa negara melarang teknik ini dalam kompetisi judo.

Pada 5 Agustus 1879, Kano ikut serta dalam demonstrasi jujutsu di hadapan mantan Presiden Amerika Serikat Ulysses S. Grant. Demonstrasi ini berlangsung di rumah pengusaha terkemuka Shibusawa Eiichi. Tokoh lainnya yang ikut serta dalam demonstrasi ini di antaranya guru jujutsu Fukuda Hachinosuke dan Iso Masatomo, dan Godai Ryusaku mitra latih Kano. Namun Fukuda meninggal tak lama setelah melakukan demonstrasi ini pada usia 52 tahun. Kano kemudian mulai belajar dengan Iso, teman Fukuda. Meskipun usianya sudah 62 tahun dan tingginya hanya 152 cm, badan Iso kuat berkat latihan jujutsu. Dia dikenal untuk keunggulan dalam kata, dan juga seorang spesialis atemi, atau menyerang daerah vital. Menurut metode Iso, belajar judo dimulai dari kata dan berlanjut ke perkelahian bebas (randori). Berkat latihan yang intensif dan dasar-dasar yang kuat dalam jujutsu dari Fukuda, Kano segera diangkat sebagai asisten di perguruan milik Iso. Pada tahun 1881, ketika berusia 21, dia mendapatkan lisensi mengajar (kyoshi menkyo) untuk mengajar Tenjin Shin’yō-ryū.

Ketika menjadi murid Iso, Kano menyaksikan demonstrasi oleh guru jujutsu Yōshin-ryū bernama Totsuka Hikosuke, dan lalu mengambil bagian dalam randori dengan murid-murid perguruan Totsuka. Kano sangat terkesan oleh murid-murid Yōshin-ryū dan menyadari bahwa ia tidak mungkin bisa mengalahkan ahli seni bela diri berbakat seperti Totsuka hanya dengan berlatih lebih keras. Ia juga perlu menemukan metode latihan yang lebih cerdas. Pengalaman tersebut menyadarkan Kano bahwa untuk dapat benar-benar unggul, perlu menggabungkan unsur-unsur terbaik dari beberapa aliran (ryū) dari jujutsu termasuk Taijutsu Yagyu Shingan ryu. Demi mewujudkan tujuannya, ia mulai mencari guru untuk mengajarinya unsur-unsur terbaik dari jujutsu yang dapat diadopsinya.

Setelah Iso meninggal pada 1881, Kanō mulai belajar Kitō-ryū di bawah bimbingan Iikubo Tsunetoshi. Ikubo adalah ahli dalam kata dan teknik bantingan, dan penganjur randori. Kano menempa dirinya dengan belajar Kito-ryū. Ia percaya teknik bantingan Iikubo, khususnya lebih baik daripada teknik yang dipelajarinya dari aliran lain sebelumnya.

Penulis : Subhan Prasandra

Judo mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 1942 ketika tentara Jepang mulai menduduki Indonesia. Pada  hari-hari tertentu tentara Jepang berlatih Judo di lingkungan asramanya, lama kelamaan tentara Jepang bergaul dan bersahabat dengan orang-orang lingkungan asrama tentara Jepang, maka orang Indonesia yang menjadi sahabat dekat tentara Jepang ikut berlatih Judo dan dipilih betul-betul sangat selektif dengan tujuan jangan sampai membahayakan keberadaan tentara Jepang di Indonesia pada waktu itu. Pada tahun 1949 berdiri perkumpulan Judo pertama di Jakarta bernama “Jigoro Kano Kwai” yang di pimpin oleh J.D. Schilder (orang Belanda). Perkumpulan tersebut berlatih di gedung YMCA, jalan Nusantara, Jakarta. Anggota perkumpulan Judo tersebut terdiri dari berbagai lapisan antara lain Pelajar, Mahasiswa, Umum, ABRI, anak-anak, orang dewasa, pria dan wanita. Selain belajar Judo mereka juga belajar Jiujitsu (salah satu jenis beladiri Jepang) yang merupakan induk dari olahraga Judo. Pada waktu itu perkumpulan-perkumpulan Judo yang masih berdiri sendiri-sendiri atau belum ada organisasi yang lebih besar yang menaunginya.

Pada tanggal 20 Mei 1955, didirikan perkumpulan Judo yang diberi nama “Judo Institute Bandung” (JIB) oleh Letkol Abbas Soeriadinata, Mayor Uluk Wartadireja, Letkol D. Pudarto, Pouw Tek Siang, dengan pelatih Tok Supriadi (orang Jepang).

Pada tanggal 25 Desember 1955 dibentuk organisasi Judo Indonesia yang diberi nama Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) sebagai organisasi Judo tertinggi di Indonesia, yang mengatur dan mengelola kegiatan Judo secara Nasional maupun Internasional. Pada tahun itu juga PJSI telah diakui oleh Komite Olympiade Indonesia sebagai Top Organisasi Judo di Indonesia. Pada tahun yang sama Indonesia secara resmi mendaftar dan diterima sebagai anggota International Judo Federation (IJF) yang menjadi organisasi Judo tertinggi di dunia.

Tahun 1957, Judo untuk pertama kalinya diikut sertakan dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) IV di Makasar, Sulawesi Selatan sebagai salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan. Tahun 1958 – 1959, ketua Komisi Tekhnik Persatuan Judo Indonesia Djakarta (PJID) yaitu Dachjan Elias, Dan IV berangkat ke negara Jepang untuk memperdalam pengetahuan olehraga Judo. Sekembalinya dari Jepang ia segera mengambil langkah-langkah untuk menggiatkan organisasi, sehingga dalam waktu satu tahun terbukti organisasi PJID lebih dikenal oleh masyarakat Judo termasuk di daerah-daerah di luar Jakarta.

Tahun 1960, PJSI akhirnya melakukan pendekatan kepada PJID untuk berfusi menjadi satu organisasi. PJID menyambut dengan tangan terbuka ajakan PJSI karena hal itu yang ditunggu-tunggu dan telah menjadi cita-cita dari PJID sejak awal didirikannya. Dalam Kongres ke II tanggal 20 Desember 1960 di Bandung, dibentuklah satu PJSI baru yang merupakan gabungan dari PJSI lama dan PJID dengan susunan pengurus bangsa Indonesia didalamnya. Setalah bergabung maka hanya ada satu organisasi saja yaitu PJSI dengan kemajuan-kemajuan yang pesat.

Tahun 1961, pada Pekan Olahraga Nasional (PON) ke V di Bandung diikuti oleh pejudo-pejudo pilihan dari berbagai macam daerah yang tadinya tidak pernah ada kesempatan untuk ikut bertanding. Jago baru muncul dan bibit penuh bakat nampak mengesankan, sebagai juara I pada waktu itu adalah Soedjono yang mewakili dari daerah Riau.

Tahun 1962, dalam Asian Games IV di Jakarta Judo tidak termasuk olahraga yang dipertandingkan tetapi bersifat demonstrasi. Perhatian masyarakat terhadap Judo waktu itu sangat besar. Indonesia berhasil menduduki tempat kedua dalam beregu setelah jepang sebagai negara asal dari olahraga beladiri ini. Tahun 1964, Pejudo Indonesia turut serta dalam persiapan Olympiade 1964 di Tokyo, Jepang. Tahun 1966, Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) mengadakan Kongresnya di Jakarta. Pada tahun ini juga Pejudo Indonesia ikut serta dalam GANEPO ASIAN ke I di Kamboja yang hasilnya sebagai berikut :

  •     Anton Darmadja Juara III kelas bulu
  •     Fanny Setiawan Atmadja Juara III kelas ringan
  •     Tony Atmadjaja Juara III kelas menengah
  •     Pieter Rusdhan Tandjono Juara III kelas berat

Tahun 1967, Indonesia ikut dalam Kejuaraan Judo Se-Asia di Manila, Philipina, dipimpin oleh Dachjan Elias. Hasilnya antara lain :

  •     Tony Atmadjaja Juara III kelas menengah
  •     Paulus Prananto Juara III kelas berat.

Pada tahun 1967 juga pejudo Indonesia ikut serta dalam Universiade di Tokyo, Jepang dimana Indonesia berhasil memperoleh medali perunggu yang merupakan satu-satunya medali bagi kontingen Indonesia yang direbut oleh Tony Admadjaja dalam kelas bebas.

Tahun 1968, PJSI yang berkembang dengan baik serta mendapat dukungan positif, dan bersama daerah-daerah/Komda-Komda mengadakan Kongres ke IV, bersamaan dengan diadakan kejuaraan Nasional. Pada bulan Oktober 1968, Indonesia sebagai anggota Judo Federation Of Asia diundang untuk hadir dalam Kongres JFA ke II di Tokyo, Jepang.

Tahun 1969, pada bulan Agustus/September diadakan Pekan Olahraga Nasional (PON) ke VII di Surabaya, cabang olahraga Judo dipertandingkan.

Tahun 1970, pada bulan Mei, Indonesia menghadiri Kongres ke IV, Judo Federation Of Asia yang sekarang menjadi Judo Union Of Asia (JUA). Pada saat itu juga diadakan kejuaraan Judo se Asia ke II, bertempat di Taipeh, Taiwan. Dalam pertandingan Judo perorangan, Indonesia berhasil merebut mendali perunggu pada kelas ringan dipersembahkan oleh pejudo Johannes Hardjasa. Sedangkan dalam beregu Indonesia berhasil merebut Juara III.

Tahun 1971, Indonesia mengikuti kejuaraan dunia di Ludwighafen, Jerman Barat dan mengikuti Kongres International Judo Federation (IJF). Dalam kejuaraan dunia Indonesia diwakili oleh empat pejudo yaitu : 1. Tony Atmadjaja kelas ringan dan kelas berat, 2. Fanny Atmadjaja kelas menengah, 3. Hendri Atmadjaja kelas menengah, 4. Iswandi Setiawan kelas ringan. Indonesia termasuk dalam “16 Besar” untuk kelas ringan, yaitu urutan ke 12.

Tahun 1972, bulan Agustus/September, PJSI mengikuti Kongres IJF di Muenchen, Jerman Barat. Utusan Indonesia adalah ketua harian PJSI yaitu Soedjono. Tahun 1973, diselenggarakan PON ke VIII di Jakarta dari tanggal 4-15 Agustu. Judo termasuk cabang olahraga yang dipertandingkan dalam PON sampai sekarang.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa olahraga Judo di Indonesia sudah lama dikenal dan digemari oleh masyarakat. Perkembangan Judo di Indonesia cukup pesat baik dari segi organisasi dan prestasi para pejudo sudah dapat di banggakan dan sudah dapat berbicara di tingkat Internasional sejak tahun 1960-an sampai sekarang.

PJSI terus menerus mengikuti kegiatan Judo baik di tingkat Asia Tenggara, Asia, maupun tingkat Dunia seperti Olympiade. Sukses yang paling banyak diraih pejudo Indonesia adalah dalam Sea Games, beberapa kali para pejudo Indonesia merebut medali emas terbanyak Sea Games. Para pejudo Indonesia yang pernah mencatat prestasi yang baik di arena pertandingan Internasional setelah para pendahulunya yang disebutkan diatas, antara lain : Ferry Pantaow, Anton Hartono, Yono Budiono, Raymond Rochili, Haryanto Chandra, Djumantoro, Elly Amalia, Eni, Fenni Pantouw, Ida Irianti Kandi, Bambang Prakasa dan lain-lain. Pejudo Indonesia yang menonjol prestasinya tahun 1990-an sampai saat ini antara lain : Krisna Bayu, Pieter Taslim, Ira Purnamasari, Jimmy Anggoro, Toni Irawan, Maulana Adriansyah, dan lain-lain. Organisasi PJSI digarap dengan cermat oleh Kwartet H. Muchdi, Dachjan Elias, Soedjono dan Hamidin RH. Pimpinan tertinggi atau ketua umum pernah di jabat oleh H. Muchdi, LetJen TNI Wismoyo Arismunandar, Mayjen TNI Hendro Priyono,  Ir. MP Simatupang dan hingga saat ini PB PJSI masih dipegang oleh Kepala Staff Angkatan Darat yakni Bpk. George Toisuta. 

Tahun 1970, dalam masa kepemimpinan Ir. Soehoed yang waktu itu menjabat Menteri Perindustrian, mulai dilakukan TC jangka panjang untuk pejudo-pejudo muda potensial dan di bangun pusat pelatihan Judo Nasional di Ciloto, termasuk Hotel Lembah Pinus, sekaligus sebagai cabang olahraga pertama di Indonesia yang memiliki fasilitas latihan sendiri yang terbaik saat itu. 

Tahun 1990-an, pada masa kepemimpinan Letjen TNI Wismoyo Arismunandar, yang waktu itu menjabat Kastaf TNI AD, tempat para pejudo Indonesia ditempa di Ciloto diperluas lagi dengan membangun Padepokan Judo Indonesia (PJI). Pada waktu itu prestasi Judo Indonesia khususnya di Asia Tenggara (Sea Games) selalu berhasil merebut medali emas terbanyak dan olahraga Judo semakin banyak diminati masyarakat di Indonesia.

Penulis : Subhan Prasandra